Teks Sumpah/Baiat Dewan Hakim MTQ

Bismillahirrohmaanirrohiim
Walloohi, Demi Alloh
Saya bersumpah


  • Bahwa saya untuk diangkat dalam jabatan ini, baik langsung maupun tidak langsung, tidak akan menerima, memberi atau menjajikan sesuatu kepada sesuatu kepada siapapun juga.
  • Bahwa saya akan menjalankan tugas dengan amanah, jujur, tertib, cermat dan bertanggung jawab.
  • Bahwa saya akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan.

Contoh Lain:

Bismillahirrohmaanirrohiim
PADA HARI INI, AHAD TANGGAL DUA MEI SERIBU SEMBILAN RATUS SEMBILAN PULUH SEMBILAN.
SAYA SELAKU KETUA LPTQ PROPINSI JAWA TIMUR, MELANTIK SAUDARA-SAUDARA SEBAGAI:
DEWAN HAKIM DAN PETUGAS PEMBANTU DEWAN HAKIM PADA MUSABAQAH TILAWATIL QUR'AN XIX TAHUN 1999 TINGKAT PROPINSI JAWA TIMUR UNTUK CABANG: MTQ, MHQ, TAFSIR, MSQ, MFQ, MKQ DAN TARTIL AL QUR'AN.
UNTUK MEMBERIKAN PENILAIAN TERHADAP PESERTA DALAM MEMBACA, MELAGUKAN, MENGHAFAL, MENAFSIRKAN AYAT-AYAT SUCI AL QUR'AN, MEMBERIKAN SYARAHAN DAN MEMAHAMI ISI KANDUNGANNYA, SERTA
BIDANG-BIDANG YANG MENJADI KETENTUAN PENILAIAN DALAM MUSABAQAH.
SEMOGA ALLAH SWT. MEMBERIKAN PETUNJUK, KEKUATAN DAN PERLINDUNGAN KEPADA SAUDARA-SAUDARA DALAM MENJALANKAN TUGAS.
KET'UA LPTQ PROPINSI JAWA TIMUR

Sapi Kurban dari Presiden Jokowi Seberat 1,25 Ton

Presiden RI Joko Widodo kurban sapi seberat 1,25 ton di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya yang diserahkan Gubernur Jawa Timur Soekarwo kepada Ketua Dewan Pembina masjid Tri Sutrisno. Sapi tersebut berjenis Simental berusia tiga tahun yang dibeli dari seorang peternak di Bojonegoro dan merupakan sapi pemenang lomba ternak di Lamongan tahun ini.
Sholat Idul Adha bertindak sebagai imam adalah KH. Abdul Hamid Abdullah yang merupakan Imam Besar Masjid Al-Akbar, dan khatib yakni mantan Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh. Foto Wang
"Terima kasih kepada semuanya dan semoga Indonesia semakin sejahtera. Saya juga berpesan mari meramaikan masjid bukan hanya sekadar fisik, tapi disertai kesadaran spiritual," kata Try Sutrisno yang juga wakil Presiden RI era Soeharto ini.

 Selain sapi kurban dari  Presiden, Gubernur  juga menyerahkan sapi jenis sama dengan berat 1,1 ton pada  panitia Idul Adha. "Saya mewakili Presiden menyerahkan hewan kurban ini untuk dibagikan kepada yang berhak," ujar Soekarwo usai mengikuti Sholat Idul Adha 1436 Hijriah di Masjid Al-Akbar Surabaya, Kamis (24/9).

Selain itu, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf juga menyerahkan kurban ke perwakilan Masjid Islamic Center, Kapolda Jatim menyerahkannya ke Panti Asuhan At-Tauhid Kepuh Kiriman, Waru Sidoarjo,dan Kepala Pengadilan Tinggi ke Masjid Al-Hakim Jalan Sumatera Surabaya.

Kemudian, Kepala Kejaksaan Tinggi Jatim menyerahkan kurban ke Masjid Baitul Haq di Jalan Ahmad Yani Surabaya, Panglima Armada Timur ke Masjid Al-Mubaroq Talun Kabupaten Blitar, Sekdaprov Jatim ke Masjid Baitul Hamdi di komplek Kantor Gubernur, serta Komandan Kobangdikal ke Masjid Quwwatul Bahriyah Bumimoro.

Menurut Humas Masjid Al Akbar Surabaya  Helmy M Nooer, jumlah hewan kurban di Masjid Al Akbar Surabaya tahun ini mencapai 21 ekor sapi dan 58 ekor kambing. Daging kurban dibagikan pada warga sekitar masjid dan bekerja sama dengan sejumlah masjid penyangga di Surabaya.

Sementara itu, pada Sholat Idul Adha bertindak sebagai imam adalah KH. Abdul Hamid Abdullah yang merupakan Imam Besar Masjid Al-Akbar, dan khatib yakni mantan Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh yang menyampaikan ceramah bertema "Menyemai Budaya Keteladanan,"  Lebih dari 50 ribu jamaah memenuhi masjid terbesar kedua di Indonesia tersebut dengan khidmat. (pul/**)

Salat Idul Adha di Masjid Al Akbar Surabaya

Salat Idul Adha di Masjid Al Akbar Surabaya-2Salat Idul Adha di Masjid Al Akbar Surabaya-0Salat Idul Adha di Masjid Al Akbar Surabaya-1Pelaksanaan Salat Idul Adha di Masjid Al Akbar Surabaya berlangsung hidmat. Ribuan umat Muslim memadati masjid terbesar di Surabaya ini. Hatib Salat Idul Adha di Masjid Al Akbar adalah mantan Menteri Pendidikan M Nuh dan imam KH Abdul Hamid Abdullah yang merupakan Imam Besar Masjid Al Akbar Surabaya.

https://photo.sindonews.com/view/14572/salat-idul-adha-di-masjid-al-akbar-surabaya

Niat Puasa, romadhonI atau romadhonA?

Nawaitu shauma Ghodin, ‘An ada’i fardli syahri Romadlo……………..NI atau NA? 
unnamed (3)Sering kali kita mendengar niat puasa itu dilantunkan dalam bentuk pujian sebelum shalat. Namun kita sering dibingungkan sebab beberapa komunitas masyarakat khususnya warga NU membacanya dengan beberapa versi. Ada yang membacanya RomadloNA ada yang membacanya RomadloNI. Lantas manakah yang benar?
Lafad ‘Romadlon’ dalam kajian ilmu nahwu merupakan bentuk kategori isim ghair munsharif karena mempunyai akhiran huruf alif dan nun. Dalam ilmu nahwu, isim ghair munsharif mempunyai pembahasan dan hukum yang berbeda dengan isim-isim yang lain. Selain tidak bisa menerima tanwin, tanda baca untuk isim ini ketika berkedudukan ‘jer/khafadl’ itu dibaca fatihah. Sebagaimana yang diterangkan dalam satu bait alfiyah karangan Ibn Malik:
و جر بالفتحة مالا ينصرف مالم يضف او يك بعد ال ردف
Artinya: setiap isim yang tidak munsharif dijerkan dengan harakat fatihah, selama tidak mudlof (diidlofahkan) atau tidak jatuh sesudah al.
Jika melihat kedudukan lafad ‘Romadlon’ dalam lafad niat di atas, maka ia berkedudukan sebagai mudlof ilahi dari lafad Syahr, tetapi ia juga menjadi mudlof pada lafad Hadzihis Sanati. Secara kaidah nahwu, seharusnya lafad ‘Romadlon’ dibaca menggunakan harakat kasrah (harakat asli jer) menjadi RomadloNI bukan RomadloNA, sehingga untuk kasus ini jernya isim ghair munsharif (lafad Romadlon) yang menggunakan fatihah tidak berlaku lagi, karena lafad Romadlon menjadi mudlof terhadap lafad hadzihis sanati.
Dalam kitab-kitab fiqh juga diterangkan cara membacanya dengan harakat kasrah (RomadloNI, di antaranya dalam kitab I’anatut Tholibin  Juz 2 Hal. 253 ketika menerangkan lafad niat puasa Ramadlan sebagai berikut:
…(قوله: بالجر لإضافته لما بعده) أي يقرأ رمضان بالجر بالكسرة، لكونه مضافا إلى ما بعده، وهو اسم الإشارة.
Artinya: … (ucapan penulis: dengan jer, karena idlofahnya lafad Romadlon terhadap lafad setelahnya) maksudnya lafad Romadlon dibaca jer dengan kasrah, karena kedudukannya sebagai mudlof terhadap lafad setelahnya yaitu isim isyarah.
Akan tetapi bisa saja lafad Romadlon dibaca menggunakan fathah dengan memberhentikan kedudukannya sebagai mudlof ilahi  dari lafad syahr. Dengan syarat lafad sesudahnya hadzihis sanah dibaca nashob dengan harakat fathah karena berkedudukan menjadi dharaf zaman. Sehingga cara membacanya adalah ‘An ada’i fardli syahri RamadloNA hadzihis SanaTA.  Akan tetapi yang demikian ini jarang digunakan oleh kitab-kitab fiqh, sebab mayoritas kitab memudlofkan lafad Romadlon pada lafad hadzihis sanati untuk menunjukkan kekhususannya

Sumber

AL-QUR’AN SEBAGAI OBAT PENYEMBUH PENYAKIT ROHANI/JIWA



Oleh : H. Abd Hamid Abdullah
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan (sedangkan) Kami telah menurunkan al-Qur’an sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan ia tidaklah menambah kepada orang-orang yang dhalim selain kerugian”.
Allah telah menurunkan al-Qur’an sebagai obat penawar keraguan dan penyakit-penyakit yang ada dalam dada. Al-Qur’an juga adalah rahmat bagi orang-orang yang beriman dan ia (al-Qur’an) tidaklah menambah kepada orang-orang yang dhalim selain kerugian disebabkan oleh kekufuran mereka
Kata شِفَاء syifa’ biasa diartikan kesembuhan atau obat dan digunakan juga dalam arti keterbebasan dari kekurangan atau ketiadaan aral dalam memperoleh manfaat.
Bahwa sementara ulama memahami ayat-ayat al-Qur’an dapat juga menyembuhkan penyakit-penyakit jasmani. Mereka merujuk kepada sekian riwayat yang diperselisihkan nilai dan maknanya, antara lain riwayat oleh Ibn Mardawaih melalui sahabat Nabi SAW, Ibn Mas’ud RA yang memberitakan bahwa ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW mengeluhkan dadanya, maka Rasul SAW bersabda: “Hendaklah engkau membaca al-Qur’an”. Riwayat dengan makna serupa dikemukakan juga oleh al-Baihaqi melalui Wai’lah Ibn al-Ashqa’.
Prof Quraisy Syihab berpendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat dan hadits Nabi itu bukanlah penyakit jasmani, tetapi ia adalah penyakit rohani/jiwa yang berdampak pada jasmani. Ia adalah psikomatik. Memang tidak jarang seseorang merasa sesak nafas, dada bagaikan tertekan karena adanya ketidakseimbangan rohani.
Sufi besar al-Hasan al-Bashri -sebagaimana dikutip oleh Muhammad Sayid Thanthawi- dan berdasar riwayat Abu As-Syeikh berkata: ”Allah menjadikan al-Qur’an obat terhadap penyakit-penyakit hati, dan tidak menjadikannya obat untuk peyakit jasmani”.
Thabathaba’i memahami fungsi al-Qur’an dalam arti menghilangkan dengan bukti-bukti yang dipaparkannya aneka keraguan/syubhat serta dalih yang boleh jadi hinggap di hati sementara orang. Hanya saja ulama ini menggarisbawahi bahwa penyakit-penyakit tersebut berbeda dengan kemunafikan apalagi kekufuran. Di tempat lain dijelaskannya bahwa kemunafikan adalah kekufuran yang disembunyikan, sedang penyakit-penyakit kejiwaan adalah keraguan dan kebimbangan batin yang hinggap dihati orang-orang beriman.
Rahmat Allah dipahami dalam arti bantuan-Nya sehingga ketidakberdayaan itu tertanggulangi. Bahkan -seperti tulis Thabathaba’i- rahmat-Nya adalah limpahan karunia-Nya terhadap wujud dan sarana kesinambungan wujud serta aneka nikmat yang tidak terhingga.
Rahmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada orang-orang mu’min adalah kebahagiaan hidup dalam berbagai aspeknya, seperti: pengetahuan tentang ketuhanan yang benar, akhlak yang luhur, amal-amal kebajikan, kehidupan berkualitas di dunia dan di akirat, termasuk perolehan surga dan ridho-Nya. Karena itu jika al-Qur’an disifati sebagai rahmat untuk orang-orang mu’min, maka maknanya adalah limpahan karunia kebajikan dan keberkahan yang disediakan Allah bagi mereka yang menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang diamanatkan al-Qur’an.
Ayat ini membatasi rahmat al-Qur’an untuk orang-orang mu’min, karena merekalah yang paling berhak menerima sekaligus paling banyak memperolehnya.  Akan tetapi ini bukan berarti bahwa selain orang mu’min tidak memperoleh walau secercah dari rahmat akibat kehadiran al-Qur’an. Perolehan mereka yang sekedar beriman tanpa kemantapan, jelas lebih sedikit dari perolehan orang mu’min dan perolehan orang kafir lebih sedikit dibanding orang-orang yang sekedar beriman.
1.   Keutamaan Surat al-Fatihah
Allah menjadikan al-Fatihah sebagai hujjah, penyembuh, pemelihara dan pelindung bagi kita. Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh aku akan mengajarkan padamu surat paling agung yang diturunkan padaku, sebelum engkau keluar dari masjid”. Maka menjelang keluar masjid, Rasulullah SAW mengajarkan kepadanya as-Sab’ul Matsani (HR. Bukhari)

Rasulullah bersabda: “Allah SWT berfirman: “Aku membagi sholat antara Aku dan hambaKu menjadi 2 bagian. Jika hambaKu berkata: ”Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”. Allah berkata: “HambaKu memuji Aku”. Apabila ia mengucapkan: ”Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Allah berfirman: “HambaKu menyanjungKu”. Apabila ia mengucap: “Yang menguasai hari pembalasan” Allah berfirman: “HambaKu memuliakanKu”. Apabila ia mengucapkan: ”Hanya kepadaMu aku menyembah dan hanya kepadaMu aku memohon pertolongan”, Allah berfirman: “Ini antara Aku dan hambaKu”. Dan apabila ia mengucapkan “Tunjukilah aku ke jalan yang lurus” Allah berfirman :“Ini bagi hambaKu dan baginya segala yang dimohon” (HR. Muslim)
Sejatinya surat al-Fatihah adalah penyembuh: kesembuhan maknawi dan kesembuhan fisik. Surat al-Fatihah mendatangkan kesembuhan bagi paham-paham yang menyimpang seperti zindiq dan ateisme; sebagaimana al-Fatihah juga mendatangkan kesembuhan bagi penyakit-penyakit lahiriah.
Dalam hadits Abu Sa’id disebutkan tentang seorang yang disengat binatang berbisa, lalu dibacakan padanya surat al-Fatihah. Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Abu Sa’id adalah sahabat yang membacakan al-Fatihah. Ketika Rasululloh melihatnya, beliau bertanya: “Apa yang engkau baca untuknya?” Abu Sa’id menjawab : “Aku membacakan untuknya Fatihah”. Rasulullah tersenyum dan bertanya: “Apa yang membuatmu tahu bahwa al-Fatihah itu penyembuh?” (HR. Bukhari dan Musim).
2.   Nama-nama Surat al-Fatihah
Disebut dengan as-Sab’ul Matsani (tujuh yang terulang), as-Shalah, Ummul Qur’an (induk al-Qur’an), asy-Syafiyah (penyembuh), al-Kafiyah (pelindung), al-Fatihah (pembuka) dan disebut pula al-Qur’anul adhzim